DARMIZAL DORONG JOKOWI PIMPIN PSI, SEMBILAN ALASAN DIUNGKAP

TansNews.com, Jakarta — Wacana mengenai kemungkinan Joko Widodo memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali mendapat sorotan. Ketua Umum Relawan Jokowi for Prabowo-Gibran (ReJO), HM Darmizal MS, menilai mantan Presiden RI tersebut memiliki sejumlah modal politik dan pengalaman yang menurutnya relevan untuk memimpin partai.
TansNews.com, Jakarta — Wacana mengenai kemungkinan Joko Widodo memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali mendapat sorotan. Ketua Umum Relawan Jokowi for Prabowo-Gibran (ReJO), HM Darmizal MS, menilai mantan Presiden RI tersebut memiliki sejumlah modal politik dan pengalaman yang menurutnya relevan untuk memimpin partai.
Pandangan itu disampaikan Darmizal ketika menanggapi munculnya nama Jokowi sebagai figur yang digadang-gadang menjadi Ketua Umum PSI pada Mei 2025. Menurut dia, kepemimpinan Jokowi di PSI berpotensi membawa perubahan terhadap orientasi politik partai tersebut.
Darmizal bahkan merumuskan sembilan alasan yang menjadi dasar pandangannya. Ia mengaitkan pengalaman Jokowi sebagai pemimpin pemerintahan dengan gagasan politik berbasis solidaritas, regenerasi, komunitas, hingga adaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Dari politik kerakyatan hingga regenerasi
Alasan pertama yang dikemukakan Darmizal berkaitan dengan pengalaman Jokowi dalam membangun citra kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat.
Menurut Darmizal, pendekatan politik Jokowi yang selama ini dikenal melalui aktivitas turun langsung ke masyarakat dapat dipandang sebagai modal untuk mengembangkan politik yang berorientasi pada kepentingan rakyat.
Ia juga melihat adanya kemungkinan kesinambungan antara pengalaman politik Jokowi dengan platform PSI yang selama ini menampilkan diri sebagai partai yang dekat dengan isu masyarakat dan generasi muda.
Alasan kedua berkaitan dengan apa yang disebut Darmizal sebagai politik substantif. Ia menilai pengalaman Jokowi dalam pemerintahan dapat menjadi modal untuk mendorong politik yang lebih berorientasi pada hasil konkret dibanding sekadar aktivitas politik yang bersifat simbolik.

Selanjutnya, Darmizal menyoroti aspek regenerasi politik.
Menurut dia, pengalaman Jokowi dapat menjadi jembatan antara generasi politik yang lebih senior dengan generasi muda yang menjadi salah satu karakter PSI.
Dalam pandangan tersebut, keberadaan Jokowi di partai tidak hanya diposisikan sebagai pergantian figur, tetapi juga sebagai sarana transfer pengalaman, nilai kepemimpinan, dan pengetahuan politik kepada generasi berikutnya.
Melampaui politik identitas
Alasan keempat yang disampaikan Darmizal menyangkut politik identitas.
Ia berpendapat bahwa pengalaman Jokowi dalam arena politik nasional menunjukkan kemampuan membangun komunikasi dengan kelompok masyarakat yang beragam. Dari perspektif Darmizal, kondisi tersebut dapat dikembangkan menjadi politik yang lebih menekankan solidaritas dibanding sekat identitas.

Namun, pandangan tersebut merupakan argumentasi Darmizal mengenai potensi politik Jokowi dan PSI, bukan keputusan atau posisi resmi bahwa Jokowi akan memimpin PSI.
Pragmatisme politik dan agenda kebijakan
Darmizal kemudian menempatkan pragmatisme politik sebagai alasan kelima.
Menurut dia, pendekatan politik Jokowi dapat dipadukan dengan gagasan transparansi dan antikorupsi yang dikaitkannya dengan PSI. Ia melihat kombinasi pengalaman pemerintahan dengan gagasan politik partai berpotensi melahirkan orientasi politik yang menekankan hasil sekaligus etika.
Alasan keenam yang dikemukakan adalah gagasan mengenai solidaritas sebagai basis kebijakan publik.
Darmizal menilai pengalaman Jokowi dalam pemerintahan dapat menjadi referensi untuk mendorong kebijakan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Ia juga mengaitkannya dengan kemungkinan pengembangan kebijakan berbasis data dan perhatian terhadap kelompok masyarakat yang berada di posisi rentan.
Infrastruktur, ekonomi, dan jaringan komunitas
Pada alasan ketujuh, Darmizal menyoroti pengalaman Jokowi dalam pembangunan ekonomi dan infrastruktur.
Ia menilai pembangunan konektivitas antarwilayah dapat ditempatkan dalam kerangka pemerataan ekonomi. Dalam pandangannya, agenda tersebut dapat dikembangkan menjadi politik ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga pemerataan dan keberlanjutan.
Alasan kedelapan berkaitan dengan politik berbasis komunitas.
Darmizal melihat pengalaman Jokowi sebagai wali kota dan gubernur sebelum menjadi presiden sebagai modal memahami dinamika masyarakat di tingkat lokal.
Sementara itu, PSI disebut memiliki jaringan aktivis muda yang dapat menjadi basis pengorganisasian politik berbasis isu dan komunitas.
Tantangan era digital
Alasan kesembilan yang disampaikan Darmizal adalah kemampuan kepemimpinan menghadapi era disrupsi teknologi.
Menurut dia, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi, memperoleh informasi, sekaligus berpartisipasi dalam politik.
Dalam konteks tersebut, Darmizal melihat pengalaman Jokowi dapat dipadukan dengan karakter PSI yang relatif dekat dengan isu teknologi dan generasi muda.
Ia menilai perpaduan pengalaman politik dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menghadapi tantangan politik masa depan.
Wacana, bukan keputusan resmi
Meski demikian, penting dicatat bahwa pernyataan Darmizal tersebut merupakan pandangan dan argumentasi politiknya terkait kemungkinan Jokowi menjadi Ketua Umum PSI.
Artikel JPNN yang menjadi rujukan berita ini menyebut nama Jokowi ketika itu sedang digadang-gadang sebagai calon Ketua Umum PSI. JPNN juga memuat sejumlah berita terkait yang menunjukkan bahwa isu hubungan Jokowi dan PSI menjadi bagian dari dinamika politik nasional saat itu.
Dengan demikian, pernyataan Darmizal lebih tepat ditempatkan sebagai dukungan atau argumentasi dari seorang tokoh relawan, bukan sebagai pengumuman resmi bahwa Jokowi telah ditetapkan sebagai Ketua Umum PSI.
TansNews.com — Jurnalist: Tantan Su | Editor: Redaksi








