Kamis, 17 September 2026 Smart – Independen – Inspiring
TANS NEWS
INFO TERKINI
KPK Sita Rp106,3 Miliar dalam OTT ATR/BPN, Dugaan Suap HGB Mengarah ke Aliran Uang dan Perantara Gempa Susulan Flores M7,7 Mulai Meluruh, BMKG Catat 15.722 Gempa dalam 30 Hari Gempa M2,9 Guncang Kabupaten Bandung, Dirasakan di Pangalengan dan Kertasari 26 Luka Terbuka, Perempuan di Neglasari Tewas; Polisi Tangkap Tersangka di Sampang RAPBD 2027 Kota Bandung Dipatok Rp7,46 Triliun, Belanja Tembus Rp7,82 Triliun Persib Bandung Hadapi FC Seoul di ACL 2, Ujian Berat Menanti Maung Bandung di Seoul Prabowo Ganti Menkeu, Purbaya Dicopot: Suahasil Nazara Ambil Alih Kendali APBN Reshuffle Menkeu: Dari Masalah Koordinasi hingga Polemik Dividen Danantara, Apa yang Terjadi pada Purbaya?
Kompas TV - Live Streaming
KOMPAS TV — LIVE STREAMING
LIVE
Beranda › Artikel › AHWA Mufakat, KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026-2031
Artikel

AHWA Mufakat, KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026-2031

BAGIKAN ARTIKELAHWA Mufakat, KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026-2031https://tansnews.com/ahwa-mufakat-kh-miftachul-akhyar-kembali-jadi-rais-aam-pbnu-2026-2031/
AHWA Mufakat, KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026-2031

JOMBANG, TansNews.com — KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai rais aam untuk masa khidmah 2026-2031.

JOMBANG, TansNews.com — KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai rais aam untuk masa khidmah 2026-2031.

Penetapan Miftachul Akhyar dilakukan melalui mekanisme musyawarah mufakat oleh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam rapat tertutup yang diikuti sembilan anggota AHWA pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026) malam.

Keputusan tersebut kemudian diumumkan dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU.

Anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, membacakan hasil musyawarah tersebut di hadapan peserta muktamar. Ia menegaskan bahwa sembilan anggota AHWA sepakat menetapkan Miftachul Akhyar sebagai rais aam PBNU untuk periode 2026-2031.

“Setelah melakukan musyawarah secara tertutup, anggota ahlul halli wal aqdi secara mufakat memutuskan Kiai Haji Miftachul Akhyar dipilih menjadi rais aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026-2031,” kata Anwar.

AHWA Pilih Musyawarah Mufakat

Anwar menjelaskan, proses penetapan rais aam PBNU kali ini tidak dilakukan melalui pemungutan suara, melainkan dengan mekanisme musyawarah mufakat.

Menurut dia, mekanisme tersebut merupakan bagian dari prinsip permusyawaratan yang memiliki landasan dalam ajaran Islam sekaligus sejalan dengan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Mekanisme yang digunakan dalam musyawarah ahlul halli wal aqdi tadi adalah musyawarah mufakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, prinsip yang digunakan antara lain merujuk pada wa syawirhum fil amr dan wa amruhum syura bainahum, yang menekankan pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan.

Prinsip tersebut, kata Anwar, juga dinilai selaras dengan sila keempat Pancasila, yakni kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dengan demikian, keputusan AHWA untuk menetapkan rais aam ditempuh melalui proses deliberasi dan kesepakatan bersama di antara sembilan anggota yang tergabung dalam forum tersebut.

Rapat AHWA Dipimpin Miftachul Akhyar

Rapat tertutup AHWA yang menghasilkan keputusan tersebut dipimpin langsung oleh KH Miftachul Akhyar, yang sebelumnya juga menjabat sebagai rais aam PBNU.

Anwar mengatakan pola tersebut memiliki kemiripan dengan pelaksanaan Muktamar NU di Lampung. Saat itu, rapat AHWA juga dipimpin oleh KH Ma’ruf Amin yang ketika itu menjabat sebagai rais aam PBNU.

“Ini seperti yang terjadi pada Muktamar di Lampung, ketika AHWA dipimpin oleh Kiai Haji Ma’ruf Amin yang saat itu menjadi rais aam,” kata Anwar.

Penetapan Miftachul Akhyar melalui mekanisme musyawarah mufakat sekaligus memperlihatkan kembali posisi strategis AHWA dalam proses penentuan rais aam PBNU.

Sembilan anggota AHWA memiliki kewenangan untuk bermusyawarah dan kemudian menetapkan sosok yang dipercaya mengemban amanah sebagai rais aam untuk masa khidmah berikutnya.

Miftachul Akhyar Kembali Memimpin Rais Aam PBNU

Dengan keputusan tersebut, Miftachul Akhyar kembali mendapatkan amanah untuk menjalankan kepemimpinan sebagai rais aam PBNU pada masa khidmah 2026-2031.

Keputusan ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU yang digelar di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Penetapan rais aam melalui AHWA menjadi bagian penting dalam proses konsolidasi organisasi dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU untuk periode lima tahun mendatang.

Selanjutnya, rangkaian Muktamar ke-35 NU akan menentukan dan menetapkan struktur kepemimpinan PBNU sesuai mekanisme yang telah ditetapkan dalam forum muktamar.

Jurnalis: Tantan Su