Pembangunan KDMP Disorot: Lokasi Tak Strategis, SDM Terbatas hingga Proyek Mangkrak

JAKARTA, TANSnews.com – Program pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) kembali menjadi sorotan. Sejumlah temuan di lapangan memunculkan kekhawatiran terhadap efektivitas pembangunan, terutama menyangkut pemilihan lokasi, kesiapan sumber daya manusia (SDM) pengurus koperasi, hingga progres pekerjaan konstruksi yang dinilai belum sesuai target.
JAKARTA, TANSnews.com – Program pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) kembali menjadi sorotan. Sejumlah temuan di lapangan memunculkan kekhawatiran terhadap efektivitas pembangunan, terutama menyangkut pemilihan lokasi, kesiapan sumber daya manusia (SDM) pengurus koperasi, hingga progres pekerjaan konstruksi yang dinilai belum sesuai target.
Program KDMP yang diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat desa dan kelurahan tersebut menghadapi berbagai tantangan dalam tahap implementasi. Di sejumlah daerah, lokasi pembangunan bahkan dipertanyakan karena dinilai kurang strategis dan berpotensi menyulitkan aktivitas usaha koperasi setelah bangunan selesai.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pemilihan lokasi pembangunan. Sejumlah titik disebut berada di kawasan yang kurang ekonomis, sulit dijangkau masyarakat, maupun jauh dari pusat aktivitas warga.
Kondisi tersebut antara lain menjadi perhatian setelah muncul informasi mengenai lokasi pembangunan yang berada di sekitar area pemakaman di Lamongan. Di daerah lain, terdapat pula titik pembangunan yang disebut berada di kawasan hutan atau wilayah pegunungan dengan akses yang relatif sulit.
Persoalan lokasi menjadi penting karena keberadaan bangunan KDMP tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga keberlanjutan kegiatan usaha koperasi. Bangunan yang berdiri di lokasi minim akses masyarakat dikhawatirkan tidak mampu memberikan dampak ekonomi secara optimal.
Kesiapan Pengurus Jadi Tantangan
Selain persoalan lokasi, kesiapan SDM pengurus koperasi juga menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Pengelolaan koperasi modern membutuhkan kemampuan dalam bidang administrasi, keuangan, manajemen usaha, pemasaran, pengadaan barang, hingga pengelolaan hubungan dengan anggota dan mitra usaha.
Apabila pengurus belum memiliki kemampuan manajerial yang memadai, pembangunan gedung dan sarana fisik belum tentu secara otomatis menghasilkan koperasi yang produktif.
Karena itu, pembangunan KDMP idealnya tidak hanya berorientasi pada penyelesaian konstruksi, tetapi juga diikuti dengan pembekalan, pendampingan, pelatihan manajemen serta penguatan kapasitas pengurus.
Progres Konstruksi Turut Disorot
Persoalan lain yang muncul adalah keterlambatan pekerjaan konstruksi di sejumlah titik.
Dalam beberapa laporan dan cuplikan video yang beredar, terlihat kondisi lokasi pembangunan yang belum menunjukkan perkembangan sesuai harapan. Bahkan terdapat informasi mengenai pekerjaan yang mengalami keterlambatan hingga aktivitas pekerja yang tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme pengawasan, pengendalian waktu pelaksanaan, kualitas pekerjaan, serta tanggung jawab masing-masing pihak dalam proyek.
Namun demikian, setiap informasi mengenai proyek yang disebut mangkrak perlu diverifikasi secara menyeluruh. Keterlambatan pekerjaan tidak selalu berarti proyek tersebut benar-benar mangkrak. Diperlukan pemeriksaan terhadap kontrak, jadwal pelaksanaan, progres fisik, kendala lapangan, hingga status pembayaran sebelum menyimpulkan adanya proyek mangkrak.
Perlu Evaluasi Menyeluruh
Munculnya berbagai persoalan tersebut menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pembangunan KDMP, khususnya pada titik-titik yang dilaporkan mengalami kendala.
Evaluasi dapat mencakup kesesuaian lokasi dengan kebutuhan masyarakat, status lahan, aksesibilitas, potensi ekonomi kawasan, kesiapan pengurus, progres pekerjaan, kualitas konstruksi, hingga mekanisme pengawasan proyek.
Pemerintah daerah, pengelola program, pengurus koperasi, kontraktor dan pihak terkait perlu memiliki koordinasi yang kuat agar pembangunan tidak berhenti sebatas penyelesaian bangunan.
Sebab, tujuan utama program KDMP bukan sekadar menghadirkan bangunan koperasi, melainkan menciptakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat desa dan kelurahan yang mampu berjalan secara berkelanjutan.
Jangan Sampai Bangunan Berdiri, Tetapi Koperasi Tidak Berjalan
Kekhawatiran masyarakat terhadap sejumlah titik pembangunan harus menjadi bahan evaluasi, bukan semata-mata polemik.
Jika lokasi tidak strategis, SDM belum siap, dan pembangunan fisik mengalami keterlambatan, maka persoalan tersebut perlu segera ditangani sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Pembangunan KDMP membutuhkan pendekatan yang terintegrasi antara perencanaan lokasi, pembangunan infrastruktur, kesiapan kelembagaan, penguatan SDM dan strategi bisnis koperasi.
Dengan demikian, setiap rupiah anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak berakhir pada bangunan yang minim aktivitas ekonomi.
TANSnews.com akan terus memantau perkembangan pembangunan KDMP di berbagai daerah, termasuk menelusuri sejumlah lokasi yang dalam cuplikan video dan laporan masyarakat disebut mengalami kendala.
Catatan Redaksi: Informasi mengenai lokasi dan kondisi pembangunan dalam pemberitaan ini merupakan isu dan temuan yang perlu diverifikasi lebih lanjut kepada pemerintah daerah, pengelola program, pengurus koperasi dan pihak kontraktor terkait. TANSnews.com membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh pihak yang disebut atau berkepentingan dalam pemberitaan ini.







