Kamis, 24 September 2026 Smart – Independen – Inspiring
TANS NEWS
INFO TERKINI
Irvan Fauzi Paparkan Visi dan Misi Calon Kades Sayang, Sumedang “MOBIL UGAL-UGALAN DI MAJALAYA, REMAJA 18 TAHUN DIAMANKAN POLISI” Menhan Tinjau Yonif TP 337/Sutajaya di Cirebon, Tekankan Kesiapan Tempur dan Peran Pembangunan Sekolah Gratis di Jabar Bakal Diperluas, Pemprov Jabar Tambah Jangkauan dan Daya Tampung Sidang Kuota Haji Memanas, Yaqut Akui Kemarahannya di Rapat: “Siapa yang Menyeleweng?” Turnamen Golf Jadi Panggung Kolaborasi CEO, Bukan Sekadar Memburu Trofi Kopdes Merah Putih di Ujung Uji Kelayakan: Risiko Gagal Bayar dan Aset Mangkrak Mengintai KPK Respons Mahfud MD soal Nusron Wahid, Penyidik Masih Dalami Kasus HGB Summarecon
Tans News TV
LIVE
Beranda › Ekonomi › Harga Sayuran Mulai Naik, Labu Siam Kini Rp6–10 Ribu per Buah
Ekonomi

Harga Sayuran Mulai Naik, Labu Siam Kini Rp6–10 Ribu per Buah

BAGIKAN ARTIKELHarga Sayuran Mulai Naik, Labu Siam Kini Rp6–10 Ribu per Buahhttps://tansnews.com/harga-sayuran-mulai-naik-labu-siam-kini-rp6-10-ribu-per-buah/
Harga Sayuran Mulai Naik, Labu Siam Kini Rp6–10 Ribu per Buah

Jakarta, TansNews.com — Harga sejumlah komoditas sayuran di Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dirasakan pedagang menyusul terganggunya pasokan dari daerah produksi yang diduga berkaitan dengan kondisi kemarau dan keterbatasan air.

Jakarta, TansNews.com — Harga sejumlah komoditas sayuran di Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dirasakan pedagang menyusul terganggunya pasokan dari daerah produksi yang diduga berkaitan dengan kondisi kemarau dan keterbatasan air.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada labu siam dan brokoli. Sementara itu, sejumlah komoditas seperti cabai masih relatif stabil, sedangkan harga bawang merah justru mengalami penurunan.

Pantauan harga di Pasar Palmeriam pada Kamis (17/9/2026) menunjukkan harga labu siam menjadi salah satu komoditas yang paling terasa kenaikannya di tingkat pedagang.

Pedagang sayuran, Amoy, mengatakan harga labu siam dari pemasok saat ini berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp6.000 per buah. Harga tersebut meningkat dibandingkan kondisi normal yang biasanya berada di sekitar Rp3.000 per buah.

“Hari ini saya sayuran saja. Sayuran mahal. Kayak labu siam, bahan sayur asem, tumis, sop, mahal kalau menurut saya. Kalau yang lain biasa. Labu siam dari sana sudah belinya Rp5.000 sampai Rp6.000 per buah,” ujar Amoy saat ditemui di lapaknya, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari kondisi produksi di tingkat petani. Minimnya ketersediaan air membuat hasil pertanian terganggu sehingga pasokan sayuran yang masuk ke pasar menjadi lebih terbatas.

Mungkin musim kering, karena tidak adanya air, kekurangan air. Semua kan dari petani, dari hasil bumi. Makanya lebih mahal,” katanya.

Selain labu siam, harga jagung manis juga mengalami kenaikan. Komoditas tersebut kini dijual sekitar Rp7.000 per buah, dari sebelumnya sekitar Rp5.000.

Labu Siam Jadi Komoditas Paling Tertekan

Pedagang lainnya, Taufik, mengungkapkan kenaikan harga labu siam terjadi pada berbagai ukuran. Jika sebelumnya satu buah dapat dijual sekitar Rp4.000, kini harga ecerannya mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000, bahkan dapat menyentuh Rp10.000 per buah untuk ukuran tertentu.

Jika dihitung berdasarkan berat, harga labu siam di tingkat konsumen berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

“Labu siam paling parah naiknya. Biasanya satu buah kita jual Rp4.000, sekarang harus jual Rp6.000 sampai Rp7.000, bahkan ada yang sampai Rp10.000 tergantung ukurannya. Kalau dihitung kiloan sekitar Rp14.000 sampai Rp15.000,” ujar Taufik.

Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan hasil panen di daerah asal. Cuaca panas berkepanjangan disebut membuat sebagian tanaman mengalami kerusakan sehingga pasokan ke pasar tidak sebanyak biasanya.

“Alasannya karena kekeringan, banyak pohon yang mati di daerah asal. Jadi pasokan tidak lancar dan panen tidak bisa maksimal seperti biasanya,” katanya.

Kondisi tersebut sejalan dengan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada Dasarian I September 2026, sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia tercatat telah memasuki musim kemarau. BMKG juga mencatat kondisi curah hujan pada periode tersebut didominasi kategori rendah dan sifat hujan sebagian besar berada di bawah normal.

BMKG juga menyebut pengaruh El Niño yang berada pada kategori sangat kuat masih menjadi salah satu faktor yang memperkuat kondisi atmosfer kering.

Brokoli Ikut Naik, Modal Pedagang Capai Rp38 Ribu

Tekanan harga juga terjadi pada brokoli.

Taufik mengatakan harga modal brokoli dari agen grosir kini mencapai sekitar Rp38.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat pedagang harus menaikkan harga jual kepada konsumen hingga sekitar Rp45.000 per kilogram.

“Brokoli biasanya kita jual Rp40.000 per kilo. Sekarang modalnya saja sudah Rp38.000, jadi terpaksa kita jual ke konsumen Rp45.000 per kilo,” jelasnya.

Kenaikan harga di tingkat pasar tersebut menunjukkan bahwa perubahan kondisi produksi dapat dengan cepat berpengaruh terhadap harga komoditas hortikultura. Ketika pasokan dari petani berkurang, pedagang menghadapi kenaikan harga modal yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga yang dibayar konsumen.

Cabai Relatif Stabil, Bawang Merah Malah Turun

Di tengah kenaikan sejumlah sayuran, tidak semua komoditas mengalami tren serupa.

Harga cabai di Pasar Palmeriam masih relatif stabil. Cabai rawit merah berada di kisaran Rp85.000 per kilogram, dengan harga modal pedagang sekitar Rp75.000 per kilogram.

Sementara cabai merah keriting dijual sekitar Rp70.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau berada di kisaran Rp60.000 per kilogram.

Untuk komoditas bawang, harga bawang merah justru mengalami penurunan. Pedagang menjualnya sekitar Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

“Bawang merah kebetulan agak turun. Kita jual di kisaran Rp40.000 sampai Rp45.000, lagi turun. Bawang putih masih normal, masih Rp50.000,” ujar Taufik.

Perbedaan pergerakan harga antar-komoditas menunjukkan bahwa dampak kondisi cuaca tidak selalu seragam. Ketersediaan stok, daerah asal produksi, hasil panen, distribusi, hingga harga di tingkat agen turut menentukan harga akhir di pasar.

Bagi masyarakat, kenaikan harga sayuran menjadi perhatian karena komoditas tersebut merupakan bagian dari kebutuhan pangan harian. Jika kondisi pasokan terganggu dalam waktu yang lebih panjang, perubahan harga di tingkat pedagang berpotensi terus dirasakan konsumen.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, perkembangan harga komoditas hortikultura di pasar tradisional menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati, khususnya untuk melihat sejauh mana gangguan produksi dan distribusi mulai memberikan tekanan terhadap kebutuhan pangan masyarakat.

Jurnalis: Tantan Su
Editor: Redaksi