Kamis, 17 September 2026 Smart – Independen – Inspiring
TANS NEWS
INFO TERKINI
KPK Sita Rp106,3 Miliar dalam OTT ATR/BPN, Dugaan Suap HGB Mengarah ke Aliran Uang dan Perantara Gempa Susulan Flores M7,7 Mulai Meluruh, BMKG Catat 15.722 Gempa dalam 30 Hari Gempa M2,9 Guncang Kabupaten Bandung, Dirasakan di Pangalengan dan Kertasari 26 Luka Terbuka, Perempuan di Neglasari Tewas; Polisi Tangkap Tersangka di Sampang RAPBD 2027 Kota Bandung Dipatok Rp7,46 Triliun, Belanja Tembus Rp7,82 Triliun Persib Bandung Hadapi FC Seoul di ACL 2, Ujian Berat Menanti Maung Bandung di Seoul Prabowo Ganti Menkeu, Purbaya Dicopot: Suahasil Nazara Ambil Alih Kendali APBN Reshuffle Menkeu: Dari Masalah Koordinasi hingga Polemik Dividen Danantara, Apa yang Terjadi pada Purbaya?
Kompas TV - Live Streaming
KOMPAS TV — LIVE STREAMING
LIVE
Beranda › Artikel › Harga Minyak Dunia Fluktuatif, Bahlil Dorong Kedaulatan Energi Nasional
Artikel

Harga Minyak Dunia Fluktuatif, Bahlil Dorong Kedaulatan Energi Nasional

BAGIKAN ARTIKELHarga Minyak Dunia Fluktuatif, Bahlil Dorong Kedaulatan Energi Nasionalhttps://tansnews.com/harga-minyak-dunia-fluktuatif-bahlil-dorong-kedaulatan-energi-nasional/
Harga Minyak Dunia Fluktuatif, Bahlil Dorong Kedaulatan Energi Nasional

Jakarta, TANSNews.com — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengibaratkan pergerakan harga minyak mentah dunia seperti orang yang terserang demam malaria. Menurutnya, harga minyak global sangat fluktuatif dan dapat berubah drastis dalam waktu singkat.

Jakarta, TANSNews.com — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengibaratkan pergerakan harga minyak mentah dunia seperti orang yang terserang demam malaria. Menurutnya, harga minyak global sangat fluktuatif dan dapat berubah drastis dalam waktu singkat.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil dalam acara Geothermal Convention & Exhibition yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (19/8/2026).

“Harga daripada minyak dunia saya umpamakan seperti orang sakit malaria. Pagi bisa turun, malam bisa naik. Tiga hari bisa turun, tujuh hari bisa naik,” ujar Bahlil.

Selat Hormuz Jadi Salah Satu Faktor Ketidakpastian

Bahlil menjelaskan, dinamika harga minyak dunia saat ini tidak terlepas dari perkembangan geopolitik global, termasuk berbagai kesepakatan dan isu mengenai status penguasaan akses di kawasan Selat Hormuz.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bagi negara-negara di dunia mengenai pentingnya kemandirian dan ketahanan energi. Ketergantungan terhadap jalur maupun sumber energi tertentu dapat membuat perekonomian suatu negara rentan terhadap gejolak geopolitik.

“Bayangkan kalau hampir semua dunia menggantungkan hidupnya di sektor energi gara-gara Selat Hormuz. Di mana letak kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa termasuk Indonesia?” kata Bahlil.

Menurut Bahlil, situasi geopolitik tersebut pada akhirnya mendorong hampir seluruh negara untuk memperkuat perlindungan terhadap kepentingan nasional masing-masing, termasuk dalam memastikan ketersediaan energi.

Prabowo Dorong Terobosan Energi Alternatif

Menghadapi ketidakpastian energi global, Bahlil mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan jajaran pemerintah untuk mencari berbagai terobosan alternatif guna memperkuat kedaulatan energi Indonesia.

Langkah tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mempercepat pemanfaatan sumber energi yang tersedia di dalam negeri.

Salah satu instrumen utama yang disiapkan pemerintah adalah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2035. Dalam rencana tersebut, pemerintah menempatkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai salah satu fondasi penting dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan nasional.

Bahlil menyebut porsi bauran energi baru terbarukan dalam RUPTL 2025-2035 ditargetkan mencapai sekitar 70 hingga 75 persen, dengan sumber energi antara lain gas, tenaga surya, panas bumi atau geothermal, serta tenaga air.

Target 100 Gigawatt PLTS

Sebagai bagian dari percepatan transisi energi, pemerintah juga menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut Bahlil, tahapan awal pembangunan tersebut akan segera dimulai dengan target kapasitas mencapai 30 gigawatt.

“Tahun ini kita akan sudah mulai masuk tahap pertama dengan pembangunan 30 gigawatt,” ujar Bahlil.

Pengembangan energi surya dan sumber energi terbarukan lainnya diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas listrik nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian harga komoditas energi dunia.

Bagi pemerintah, transformasi menuju energi yang lebih beragam dan berbasis sumber daya domestik menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus memperkuat kedaulatan nasional.

Reporter: Tantan Su
Editor: TANSNews.com