Gempa M5,3 Guncang Manggarai Timur, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Bandung, TansNews.com – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,3 mengguncang wilayah Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (21/9/2026) pagi. Gempa terjadi pada pukul 08.41.37 WIB dan dirasakan di sejumlah wilayah di Pulau Flores.
Bandung, TansNews.com – Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,3 mengguncang wilayah Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (21/9/2026) pagi. Gempa terjadi pada pukul 08.41.37 WIB dan dirasakan di sejumlah wilayah di Pulau Flores.
Berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di sekitar 32 km barat laut Manggarai Timur, dengan koordinat sekitar 8,33° Lintang Selatan dan 120,59° Bujur Timur serta kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Dalam pemutakhiran analisisnya, BMKG menyebut episenter gempa berada di darat sekitar 29–34 kilometer timur laut Ruteng. Dengan kedalaman yang relatif dangkal, guncangan kemudian dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Flores.
Dirasakan di Sejumlah Wilayah
Laporan masyarakat yang dihimpun BMKG menunjukkan gempa dirasakan dengan tingkat intensitas berbeda.
Di wilayah Manggarai, Bajawa, dan Labuan Bajo, guncangan tercatat pada kisaran III-IV MMI. Pada skala tersebut, getaran dapat dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam rumah.
Sementara itu, guncangan dengan intensitas II-III MMI dilaporkan terasa di Nagekeo dan Waingapu. Adapun di Maumere, getaran dilaporkan berada pada kisaran I-II MMI.
BMKG menjelaskan bahwa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-arc Thrust.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya mekanisme pergerakan turun atau normal fault.
Bagian dari Rangkaian Gempa Flores
Yang menjadi perhatian, gempa M5,3 tersebut merupakan bagian dari rangkaian aktivitas kegempaan yang masih berlangsung setelah gempa besar M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB.
BMKG mencatat hingga 21 September 2026 pukul 05.00 WIB, telah terjadi sekitar 17.073 aktivitas gempa susulan (aftershock) dalam rangkaian tersebut. Gempa susulan terbesar yang tercatat mencapai M6,2.
Kondisi tersebut membuat aktivitas kegempaan di kawasan Flores masih menjadi perhatian pemantauan BMKG. Masyarakat diminta tidak hanya memperhatikan besaran magnitudo sebuah gempa, tetapi juga mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gempa susulan.
BMKG Minta Warga Tetap Waspada
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang sumber maupun kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa, karena kondisi struktur bangunan dapat menjadi risiko apabila kembali terjadi guncangan.
BMKG memastikan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan terus dilakukan. Informasi terbaru akan disampaikan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan melalui kanal resmi BMKG.
Masyarakat diimbau menjadikan BMKG sebagai rujukan utama untuk memperoleh informasi mengenai gempa bumi dan potensi tsunami, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Jurnalist : Tantan Su
Editor : Redaksi







