Jangan Sepelekan Abu Vulkanik, Dokter Ungkap Risiko Serius bagi Anak

TansNews.com, Jakarta — Penyebaran abu vulkanik akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu diwaspadai masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki anak kecil. Paparan abu vulkanik tidak hanya mengganggu kualitas udara, tetapi juga dapat memicu iritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.
TansNews.com, Jakarta — Penyebaran abu vulkanik akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu diwaspadai masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki anak kecil. Paparan abu vulkanik tidak hanya mengganggu kualitas udara, tetapi juga dapat memicu iritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Dokter anak dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A mengimbau orang tua membatasi aktivitas anak di luar rumah apabila abu vulkanik mulai terbawa angin hingga ke kawasan permukiman.
“Kalau ada hujan abu atau debu vulkanik yang mulai menempel di sekitar rumah, tahan anak tetap di dalam rumah dan hindari aktivitas di luar,” ujar Kurniawan saat dihubungi TansNews.com.
Menurutnya, anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap paparan partikel abu vulkanik. Anak cenderung bernapas lebih cepat dan memiliki aktivitas fisik yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Aktivitas fisik di luar rumah, seperti berlari atau bermain, juga dapat membuat anak menarik napas lebih dalam. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan jumlah partikel abu yang masuk ke saluran pernapasan.
Dampak Abu Vulkanik Bisa Muncul Beberapa Hari Setelah Paparan
Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan. Keluhan yang perlu diwaspadai antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, mata merah, serta rasa gatal atau iritasi.
Kurniawan menyebut keluhan tidak selalu muncul seketika. Pada sebagian anak, gejala dapat terlihat beberapa hari setelah terpapar abu.
“Yang sering muncul di hari ketiga sampai kelima pasca paparan antara lain ISPA, batuk, mata merah, dan gatal,” jelasnya.
Risiko juga lebih besar pada anak yang sebelumnya memiliki masalah seperti asma, alergi, atau batuk kronis. Karena itu, orang tua perlu lebih cermat memantau kondisi anak selama kualitas udara di lingkungan sekitar menurun akibat abu vulkanik.
Jangan Biarkan Anak Ikut Membersihkan Abu
Orang tua tidak perlu panik apabila lingkungan rumah masih bersih dan belum terdapat abu vulkanik. Namun, apabila abu mulai terlihat atau menempel di halaman, kendaraan, tanaman, maupun atap rumah, langkah perlindungan perlu segera dilakukan.
Salah satunya dengan mengurangi masuknya udara luar ke dalam rumah.
Pintu, jendela, dan ventilasi sebaiknya ditutup ketika terjadi penyebaran abu. Bagi rumah yang menggunakan pendingin ruangan, penggunaan mode recirculate dapat membantu mengurangi masuknya udara dari luar.
Pembersih udara (air purifier) juga dapat digunakan apabila tersedia.
Yang tak kalah penting, anak sebaiknya tidak dilibatkan dalam kegiatan membersihkan abu vulkanik.
“Jangan suruh anak menyapu abu. Orang dewasa yang membersihkan, gunakan masker dan basahi abu terlebih dahulu supaya debunya tidak terbang,” kata Kurniawan.
Membasahi abu sebelum dibersihkan dapat membantu mengurangi debu beterbangan yang berpotensi kembali terhirup.
Jika Terpaksa Keluar, Anak Harus Dilindungi
Dalam kondisi tertentu ketika anak harus keluar rumah, perlindungan terhadap tubuh dan saluran pernapasan perlu diperhatikan.
Anak disarankan menggunakan:
- pakaian lengan panjang;
- celana panjang;
- masker yang terpasang dengan baik; dan
- pelindung mata apabila kondisi abu cukup pekat.
Untuk balita yang belum dapat menggunakan masker dengan ukuran dan pemasangan yang tepat, sebaiknya tidak dibawa keluar rumah kecuali dalam kondisi mendesak.
Aktivitas olahraga, berlari, bermain, atau kegiatan fisik lainnya di luar ruangan juga sebaiknya dihentikan sementara ketika udara masih dipenuhi abu vulkanik.
Air dan Makanan Juga Perlu Diamankan
Ancaman abu vulkanik tidak hanya berasal dari udara.
Abu yang terbawa angin dapat mengotori sumber air maupun makanan yang dibiarkan terbuka. Karena itu, tempat penyimpanan air perlu ditutup rapat dan makanan harus terlindung dari paparan abu.
Bahan makanan juga perlu dicuci sebelum diolah dan makanan dimasak hingga matang.
Paparan lingkungan yang tercemar juga dapat memicu gangguan kesehatan lainnya, termasuk keluhan pencernaan seperti diare pada anak.
Jangan Tunggu Kondisi Memburuk
Orang tua diminta tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan yang muncul setelah anak terpapar abu vulkanik.
Anak perlu segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami:
- sesak napas;
- napas berbunyi atau mengi;
- batuk yang semakin berat;
- mata sangat merah atau terasa nyeri;
- demam tinggi;
- diare berulang;
- bayi tampak lemas; atau
- bayi menolak minum.
Kondisi gangguan pernapasan merupakan salah satu tanda yang harus mendapat perhatian serius.
“Kalau batuk bertambah, napas berbunyi, sesak, atau terlihat menggunakan otot leher saat bernapas, langsung ke fasilitas kesehatan dan jangan ditunggu sampai pagi,” tegas Kurniawan.
Orang Tua Diminta Pantau Informasi Resmi
Di tengah peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat juga diimbau tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial.
Orang tua perlu memantau perkembangan aktivitas gunung api, arah penyebaran abu, serta rekomendasi keselamatan melalui kanal resmi pemerintah dan lembaga terkait.
Kewaspadaan menjadi semakin penting ketika abu mulai terlihat di lingkungan permukiman. Membatasi aktivitas anak di luar rumah, menjaga kualitas udara di dalam rumah, mengamankan makanan dan air, serta mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko.
Jurnalis: Tantan Su
Editor: Team Tans News







