Kamis, 17 September 2026 Smart – Independen – Inspiring
TANS NEWS
INFO TERKINI
KPK Sita Rp106,3 Miliar dalam OTT ATR/BPN, Dugaan Suap HGB Mengarah ke Aliran Uang dan Perantara Gempa Susulan Flores M7,7 Mulai Meluruh, BMKG Catat 15.722 Gempa dalam 30 Hari Gempa M2,9 Guncang Kabupaten Bandung, Dirasakan di Pangalengan dan Kertasari 26 Luka Terbuka, Perempuan di Neglasari Tewas; Polisi Tangkap Tersangka di Sampang RAPBD 2027 Kota Bandung Dipatok Rp7,46 Triliun, Belanja Tembus Rp7,82 Triliun Persib Bandung Hadapi FC Seoul di ACL 2, Ujian Berat Menanti Maung Bandung di Seoul Prabowo Ganti Menkeu, Purbaya Dicopot: Suahasil Nazara Ambil Alih Kendali APBN Reshuffle Menkeu: Dari Masalah Koordinasi hingga Polemik Dividen Danantara, Apa yang Terjadi pada Purbaya?
Kompas TV - Live Streaming
KOMPAS TV — LIVE STREAMING
LIVE
Beranda › Artikel › Gunung Anak Krakatau Kembali Meletus, Status Siaga dan Radius 3 Km Masih Berlaku
Artikel

Gunung Anak Krakatau Kembali Meletus, Status Siaga dan Radius 3 Km Masih Berlaku

BAGIKAN ARTIKELGunung Anak Krakatau Kembali Meletus, Status Siaga dan Radius 3 Km Masih Berlakuhttps://tansnews.com/gunung-anak-krakatau-kembali-erupsi-6-september-2026/
Gunung Anak Krakatau Kembali Meletus, Status Siaga dan Radius 3 Km Masih Berlaku

JAKARTA, TANSNEWS.COM — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat. Setelah sebelumnya mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, gunung api aktif tersebut kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) malam.

JAKARTA, TANSNEWS.COM — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat. Setelah sebelumnya mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, gunung api aktif tersebut kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) malam.

Berdasarkan informasi pemantauan Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi tercatat terjadi pada pukul 20.23 WIB. Kolom abu akibat erupsi tersebut tidak teramati.

Aktivitas erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan berlangsung sekitar 44 detik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Status Level III atau Siaga. Status ini telah diberlakukan sejak 2 Juli 2026 setelah aktivitas vulkanik gunung tersebut mengalami peningkatan.

Radius 3 Kilometer Masih Terlarang

Dengan status Siaga yang masih berlaku, masyarakat, wisatawan, pengunjung maupun pendaki diminta tidak mendekati pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi merekomendasikan agar tidak ada aktivitas masyarakat dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Larangan tersebut berkaitan dengan potensi bahaya erupsi, termasuk lontaran material vulkanik, lava, awan panas dan hujan abu lebat.

Masyarakat di wilayah pesisir Lampung dan Banten juga diminta tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Informasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebaiknya merujuk kepada kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, MAGMA Indonesia serta pemerintah daerah dan BPBD setempat.

Sebelumnya Erupsi Menerus Selama Sekitar 25 Jam

Aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelumnya mengalami peningkatan signifikan pada awal September.

Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus mulai terjadi pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan berlangsung hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.

Selama episode tersebut, aktivitas vulkanik disertai suara gemuruh. Pengamatan visual juga menunjukkan adanya semburan berwarna merah pada malam hari yang menyerupai fenomena lava fountain atau air mancur lava.

Setelah episode erupsi menerus berakhir, PVMBG masih mencatat aktivitas erupsi susulan. Pada Minggu dini hari pukul 03.53 WIB, terjadi erupsi bertipe Strombolian dengan durasi sekitar 30 detik.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan memerlukan pemantauan intensif.

Ancaman Tsunami Tidak Menjadi Dasar Kepanikan

Badan Geologi sebelumnya menjelaskan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 22 Desember 2018 masih relatif kecil.

Berdasarkan evaluasi yang disampaikan Badan Geologi, kondisi morfologi saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Namun, perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mengaitkan setiap peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau secara otomatis dengan ancaman tsunami.

Yang perlu menjadi perhatian saat ini adalah potensi bahaya langsung dari aktivitas erupsi, terutama lava, lontaran batu pijar, awan panas dan hujan abu lebat.

Masyarakat Diminta Tidak Terprovokasi Informasi Hoaks

Di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik, masyarakat juga diminta berhati-hati terhadap video, foto maupun narasi yang beredar di media sosial.

Badan Geologi sebelumnya telah menemukan adanya video yang diklaim sebagai rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau, tetapi setelah diverifikasi video tersebut bukan merupakan rekaman erupsi terkini.

Masyarakat diimbau memperoleh informasi hanya dari sumber resmi dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.

Dengan status Level III (Siaga) yang masih berlaku, aktivitas di sekitar kawah aktif tetap dibatasi. Pemerintah dan petugas pemantauan terus mengawasi perkembangan Gunung Anak Krakatau untuk mengantisipasi perubahan aktivitas yang signifikan.

Jurnalis: Tantan Su

Editor : Team Tans News