Kamis, 01 Oktober 2026 Smart – Independen – Inspiring
TANS NEWS
INFO TERKINI
Klaster Mewah Lapas Cibinong Rata dengan Tanah, 10 Bangunan Dibongkar Kapten Bangladesh Soroti Wajah Baru Timnas Indonesia AKHIRNYA !!! Klaster Mewah Lapas Cibinong Dibongkar Jejak RR Okki Jusuf Judanagara: Dari Sejarah, Budaya Sunda hingga Masyarakat Adat Jokowi Ditanya Duet Dedi Mulyadi-Gibran di Pilpres 2029, Cuma Bilang “Hehe” Masinis KA Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka, Polisi Ungkap Detik-detik Menjelang Tabrakan di Bekasi Kopdes Merah Putih Dibangun di Sejumlah Lokasi Tak Biasa, dari Pantai hingga Lereng Gunung TANS NEWS Siapkan Paket Iklan Digital, dari Promosi UMKM hingga Publikasi Perusahaan
Tans News TV
LIVE
Beranda › Kebudayaan › Jejak RR Okki Jusuf Judanagara: Dari Sejarah, Budaya Sunda hingga Masyarakat Adat
Kebudayaan

Jejak RR Okki Jusuf Judanagara: Dari Sejarah, Budaya Sunda hingga Masyarakat Adat

BAGIKAN ARTIKELJejak RR Okki Jusuf Judanagara: Dari Sejarah, Budaya Sunda hingga Masyarakat Adathttps://tansnews.com/jejak-rr-okki-jusuf-judanagara-dari-sejarah-budaya-sunda-hingga-masyarakat-adat/
Jejak RR Okki Jusuf Judanagara: Dari Sejarah, Budaya Sunda hingga Masyarakat Adat

Terinspirasi warisan Maharaja Purnawarman, RR. Okki Jusuf Judanagara menggagas pembangunan kanal dan sistem irigasi pertanian di Jawa Barat serta Sumatera Selatan.

RR. Okki Jusuf Judanagara, dari Pelestarian Budaya hingga Gagasan Kanal Pertanian

Terinspirasi warisan Maharaja Purnawarman, RR. Okki Jusuf Judanagara menggagas pembangunan kanal dan sistem irigasi pertanian di Jawa Barat serta Sumatera Selatan.

Bandung, TansNews.com — Perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Nusantara menjadi landasan bagi RR. Okki Jusuf Judanagara, M.Sc., M.M., dalam menggagas pembangunan terusan air atau kanal beserta sistem irigasi pertanian di Jawa Barat dan Sumatera Selatan.

Gagasan tersebut menghubungkan ketertarikannya pada warisan Maharaja Purnawarman dengan kebutuhan pengelolaan air dan ketahanan pangan masa kini. Sejarah ditempatkan sebagai sumber pembelajaran untuk merumuskan pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Rencana kanal dan irigasi itu menjadi bagian dari perjalanan Okki yang bersentuhan dengan organisasi adat, kajian sejarah, kegiatan kemasyarakatan, hingga dunia usaha. Benang merahnya adalah perhatian terhadap keberlanjutan warisan budaya dan relevansinya bagi kehidupan sekarang.

Berangkat dari Royal Nusantara

Perjalanan organisasi Okki berawal dari keterlibatannya di Royal Nusantara, Persatuan Raja Sultan Nusantara. Dalam organisasi yang menaungi para pemangku adat dan kerajaan Nusantara tersebut, ia dipercaya menjalankan peran sebagai Sekretaris Jenderal.

Keterlibatan itu menjadi salah satu pijakan bagi aktivitasnya di berbagai lembaga yang berfokus pada adat, sejarah, dan kebudayaan. Ia juga tercatat sebagai pendiri Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) serta pendiri Lembaga Komunikasi Pemangku Adat Indonesia (LK PASI).

Riwayat organisasinya mencakup amanah sebagai Ketua Dewan Pembina Dewan Adat Kerajaan Tarumanagara, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Tarumanagara Luhur, Wakil Ketua Majlis Adat Sunda, dan Ketua Forum Kerajaan Kesultanan Tatar Sunda.

Di luar lingkup organisasi adat, ia pernah dipercaya sebagai Sekretaris Perkumpulan Golf Bandung. Beragam aktivitas tersebut memperlihatkan luasnya ruang keterlibatan Okki, dari lingkungan kebudayaan hingga komunitas olahraga.

Membaca Kembali Warisan Purnawarman

Salah satu perhatian yang menonjol dalam kiprah Okki adalah sejarah Kerajaan Tarumanagara dan Maharaja Purnawarman. Perhatian tersebut dituangkan melalui karya berjudul The King’s Code: Pesan Raja Agung Purnawarman.

Ia juga menggagas kajian mengenai rekonstruksi Kerajaan Tarumanagara dan sistem kanal Maharaja Purnawarman di kawasan pantai utara atau Pantura.

Dalam kerangka gagasan itu, sejarah dibaca melalui hubungan antara kepemimpinan, pengelolaan sumber daya alam, dan kebutuhan masyarakat. Perhatian diarahkan pada bagaimana air dikelola, lingkungan ditata, serta kehidupan masyarakat berkembang di sekitarnya.

Penelusuran sumber sejarah dan pengujian bukti menjadi dasar penting agar gagasan rekonstruksi tersebut dapat dikembangkan melalui kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menggagas Kanal dan Irigasi di Dua Provinsi

Perhatian terhadap warisan pengelolaan air pada masa Tarumanagara kemudian menjadi inspirasi bagi gagasan pembangunan kanal dan sistem irigasi pertanian di Jawa Barat serta Sumatera Selatan.

Rencana tersebut bertolak dari upaya mempelajari kembali pengetahuan leluhur, khususnya warisan Maharaja Purnawarman, untuk menjawab kebutuhan pertanian masa kini.

Salah satu rujukannya adalah Prasasti Tugu, yang mencatat penggalian saluran Gomati pada masa pemerintahan Purnawarman. Dalam rujukan sejarah terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, saluran itu disebut memiliki panjang sekitar 11 kilometer dan diselesaikan dalam waktu 21 hari.

Catatan tersebut menjadi titik berangkat untuk melihat pengelolaan air sebagai bagian penting dari pembangunan masyarakat. Dalam gagasan Okki, kanal dan jaringan irigasi diarahkan untuk mendukung penyediaan serta penyaluran air bagi kebutuhan pertanian.

Inspirasi sejarah itu perlu diterjemahkan melalui kajian yang sesuai dengan kondisi wilayah saat ini. Ketersediaan sumber air, karakter lahan, kebutuhan petani, dan dampak lingkungan menjadi aspek penting dalam menentukan kelayakan serta bentuk pengembangannya.

Rencana di Jawa Barat dan Sumatera Selatan tersebut masih dipaparkan sebagai gagasan pembangunan. Bahan yang disampaikan belum merinci lokasi, panjang kanal, cakupan lahan pertanian, pendanaan, maupun jadwal pelaksanaan.

Dengan demikian, warisan Purnawarman menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan konsep, sementara penerapannya membutuhkan perencanaan teknis dan penyesuaian terhadap kebutuhan masyarakat setempat.

Pengalaman Profesional di Dunia Usaha

Aktivitas kebudayaan Okki berjalan berdampingan dengan pengalamannya di dunia profesional. Dalam riwayat karier yang disampaikan, ia pernah menjabat Direktur Utama PT Trimitra Adiyasa pada 1997–2010 dan Direktur Utama PT Trimitra Sriwijaya pada 2005–2017.

Perjalanan profesionalnya juga mencakup keterlibatan melalui PT Trimitra Tarumanagara Luhur, yang menjadi bagian dari aktivitas dan gagasannya mengenai pembangunan serta warisan Tarumanagara.

Selain itu, riwayat pengabdiannya mencantumkan jabatan Ketua Dewan Pembina Yayasan Tarumanagara Luhur untuk periode 2017–2026.

Pengalaman di perusahaan dan lembaga kebudayaan memperlihatkan dua ruang aktivitas yang berdampingan dalam profilnya: pengelolaan organisasi dan usaha, serta perhatian terhadap sejarah dan keberlanjutan nilai budaya.

Leuit dan Ketahanan Pangan Masyarakat

Perhatian Okki terhadap kearifan lokal juga mencakup sistem leuit atau lumbung pangan masyarakat adat. Dalam gagasan yang dikembangkannya, tradisi tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan ketahanan pangan dan kemampuan masyarakat menjaga persediaan bagi kebutuhan bersama.

Pembahasan mengenai leuit mengarahkan perhatian pada pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat mengelola kehidupannya. Nilainya mencakup pengaturan cadangan pangan dan keberlanjutan komunitas.

Perhatian terhadap leuit dan gagasan irigasi memiliki titik temu pada kebutuhan dasar masyarakat. Keduanya membuka ruang pembahasan mengenai hubungan antara ketersediaan air, keberlangsungan pertanian, dan pengelolaan hasil pangan.

Melalui pendekatan tersebut, pelestarian budaya menjadi lebih dekat dengan persoalan sehari-hari. Adat dan sejarah memperoleh tempat dalam percakapan tentang lingkungan, pangan, serta pembangunan masyarakat.

Menautkan Warisan Budaya dengan Masa Depan

Perjalanan RR. Okki Jusuf Judanagara mempertemukan pengalaman profesional, jejaring organisasi, dan perhatian terhadap sejarah Nusantara. Dari Royal Nusantara hingga kajian Tarumanagara, kiprahnya menunjukkan upaya membawa warisan budaya ke dalam pembicaraan mengenai kebutuhan zaman.

Gagasan kanal dan irigasi pertanian di Jawa Barat serta Sumatera Selatan memperjelas arah perhatian tersebut. Pengetahuan masa lalu diangkat sebagai inspirasi untuk merancang dukungan bagi kehidupan masyarakat masa kini.

Tantangan berikutnya adalah memperkuat gagasan melalui kajian yang terukur, perencanaan yang matang, dan keterlibatan masyarakat yang akan menerima manfaatnya.

Di situlah pelestarian budaya memperoleh makna yang lebih luas: menjaga ingatan, merawat pengetahuan, dan membuka kemungkinan bagi warisan leluhur untuk berkontribusi pada masa depan.

Jurnalis: Tantan Su
Editor: Redaksi